Rabu, 17 Februari 2016

KUA di Minta Untuk Lebih Cermat Menyikapi Terkait Isu Pernikahan Sejenis

Singkil - Menyikapi adanya isu yang mencuat saat ini tentang pernikahan sejenis di negara Republik  Indonesia, Kementerian Agama Kabupaten Aceh Singkil juga diiharapkan mengantispasi hal – hal tersebut khususnya  di ruang lingkup  Kementrian Agama sendiri.  Karena perbuatan tentang pernikahan sejenis ini sangat dilarang keras dalam agama.

Kepala Kementerian Agama kabupaten Aceh Singkil Salihin Mizal S.Ag kepada RRI, Rabu (17 Februari 2016) menjelaskan  walaupun pernikahan sejenis ini belum ada  terjadi di Aceh Singkil namun wajib untuk diantisipasi. Selanjutnya Kementrian Agama Aceh Singkil akan memberikan pencerahan kepada seluruh Kepala Urusan Agama. Dan meminta untuk lebih teliti serta lebih  cermat dalam memeriksa berkas calon dari pada mempelai yang ingin melakukan atau melangkah ke jenjang pernikahan.  Baik yang menikah di dalam kota maupun ke luar kota.

“Sekarang itu langkah-langkah yang kita lakukan dengan memberi pencerahan kepada KUA kita.  Mereka kita sarankan untuk berhati-hati, lebih cermat, lebih teliti memeriksa F1, F2, dan seterusnya.  Kalau ada yang menikah di luar yang ada direkomendasi juga harus diteliti,” kata Salihin Mizal.


Salihin Mizal menambahkan mengenai  isu  pernikahan sejenis ini bisa saja terjadi dimanapun. Oleh karena itu diminta kepada seluruh masyarakat dan  Pemerintah Aceh Singkil pada khususnya agar bersama untuk mengantisipasinya.  Dan lebih cermat dalam menyikapi peristiwa yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia.  Serta menolak keras tentang pernikahan sejenis  tersebut.  Karena  sangat melanggar norma – norma dalam suatu agama apapun itu yang ada di Negara kesatuan Republik Indonesia.  (Salihin Barus/ EBS)

Selasa, 16 Februari 2016

Kepala BPPKP Aceh Singkil Himbau Kepala Desa Untuk Dukung Program KRPL

Singkil - Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan (BPPKP) Aceh Singkil, Syukriwadi, SP, menghimbau Kepala Desa untuk mendukung program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) yang selama ini dilakukan oleh BPPKP Aceh Singkil. 

Dukungan Kepala Desa sangat diharapkan mengingat anggaran dana untuk pelaksanaan Program KRPL melalui BPPKP sangat terbatas hanya untuk 10 kelompok atau 10 desa dengan anggaran Rp 15 juta per desa setiap tahunnya. Padahal Program KRPL - penanaman tanaman pangan dan sayur-sayuran, dinilai sangat berpotensi untuk menciptakan ketahanan pangan dan meningkatkan perekonomian keluarga. Serta menciptakan konsumsi keluarga yang beragam, bergizi, berimbang, dan aman.

Syukriwadi, SP kepada RRI, Senin, 15 Februari 2016 mengatakan.  Untuk Aceh Singkil saat ini masih Camat Gunung Meriah yang mendukung pengembangan program KRPL di satu desa, karena Camat secara langsung meminta masyarakat mengajukan proposal untuk dimasukkan dalam anggaran.  Bahkan telah mengeluarkan dana untuk KRPL.  Karena itu, untuk Kepala Desa lainnya diharapkan  dapat menganggarkan sekitar Rp 20 juta untuk mendukung KRPL.

“Itu Ajukan saja di Dana Desa, begitu kata Camat Gunung Meriah.  Pada saat penarikan mereka langsung membeli jaring untuk KRPL. Karena itu sisihkanlah dana sekitar 20 juta, karena dana desa itu bisa untuk KRPL,” kata Syukriwadi.

Dikatakan Syukriwadi, program KRPL selama ini mendapat minat yang cukup tinggi dari kelompok tani wanita, yang rata-rata dari Ibu Rumah Tangga.  Karena penanaman tanaman pangan dilakukan di halaman rumah tempat tinggal, sehingga mudah untuk dikerjakan.  Selain itu dengan adanya program KRPL para ibu rumah tangga dapat menghemat pengeluaran untuk belanja rumah tangga.  Bahkan ada yang dapat menambah penghasilan dengan menjual hasil tanaman yang dimiliki.

Syukriwadi menegaskan apabila KRPL dilaksanakan di seluruh desa, maka akan dapat meningkatkan ekonomi masyarakat dan menciptakan masyarakat yang sehat.  Yang secara otomatis juga akan meningkatkan perekonomian desa. (Eva Basaria/EBS)


Polres Aceh Singkil Gagalkan Penyeludupan 20 Ton Kayu Ilegal

Singkil – Satuan Reserse dan Kriminal (Resrim) Kepolisian Resort Aceh Singkil mengagalkan upaya penyeludupan 20 ton kayu Illegal Jenis Damar laut di Pos UPTD Kawasan Kecamatan Penanggalan Subulusalam.   Yang letaknya tidak jauh dari Perbatasan Subulussalam Aceh dengan wilayah Sumatra Utara.

Kepala Kepolisian Resor Aceh Singkil AKBP M.Ridwan, SIK melalui  Kepala Satuan Reskrim AKP. Marzuki mengatakan pengintaian dilakukan setelah adanya laporan dari masyarakat setempat.  Diinformasikan bahwa selama ini aktifitas angkutan kayu dari Aceh menuju Sumatera tanpa kelengkapan dokumen dan izin kerap terjadi.  Karena itu, saat Patroli dilakukan Polisi langsung menangkap  truk angkutan yang berisikan kayu ilegal sebanyak 20 ton.

“Karena adanya laporan masyarakat ada sering ada kegiatan tentang pengiriman kayu  ke  wilayah Sumatera Utara,” kata AKP Marzuki.

Dikatakan Marzuki, saat penangkapan  diketahui Kayu tersebut berasal dari salah satu Kecamatan di Kota Subulussalam, Provinsi  Aceh.   Barang bukti  kayu beserta supir truk berinisial BK dan kernetnya berisial AM warga Berastagi, Sumatera Utara, serta pemilik kayu bernisial ME langsung diamankan Ke Markas Polres Aceh Singkil guna dilakukan pemeriksaan.   Selain itu ada beberapa orang lagi yang akan diamankan untuk pengembangan proses penyelidikan.

Terkait dengan kasus penyeludupan kayu tanpa izin ini akan dijerat dengan Undang-Undang Khusus tentang Pengerusakan Hutan Tanpa Izin, dengan jerat hukum 15 tahun kurungan penjara. (Defri Suriana/ EBS)


BKSDA Belum Sepakati Tempat Penangkaran Buaya di Aceh Singkil

Singkil - Penangkaran buaya yang disediakan oleh Pemerintah Daerah Aceh Singkil di desa Ketapang Indah, Kecamatan Singkil Utara sempat menjadi keluhan warga setempat.  Karena lokasi yang tepatnya di belakang Gelanggang Olah Raga (GOR) daerah tersebut sering mengalami banji.  Sehingga dikhawatirkan, kondisi pembangunan pagar yang berlubang cukup lebar memungkinkan anak-anak biaya keluar dan berkeliaran di sekitar parit belakang rumah masyarakat.   Dan bahkan bisa berkembangbiak di luar wilayah penangkaran.

Menanggapi keluhan warga, Sutikno Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah Dua Aceh Singkil saat dikonfirmasi RRI, Selasa, 16 Februari 2016, mengatakan berdasarkan survey beberapa waktu lalu, sampai saat ia belum bisa menerima lokasi tangkaran buaya tersebut.  Karena lubang pagar yang dibagun masih sangat terlalu besar.  Ia juga memperkirakan untuk anak buaya masih sangat mudah untuk keluar.  Dikatakannya ia akan menerima tangkaran tersebut apa bila sudah ada perbaikan dari pihak yang bersangkutan.

“Kategori nya memang sudah selesai tapi belum tepat untuk dibuat penangkaran buaya karena lubang pagarnya masih besar.  Jadi jika buaya berkembang dan bertelur, maka anak-anak buaya bisa keluar dari lubang-lubang besar tadi,” kata Sutikno.

Dikatakan Sutikno, setelah dilakukan pembenahan dengan memperkecil lubang pagar di lokasi penangkaran, pihaknya juga akan melakukan survey kembali apakah lokasi tersebut sudah layak untuk dimasukan hewan ganas tersebut. Karena untuk melakukan ternak buaya bukan hal yang mudah, san apabila tidak ditangani dengan benar akan membahayakan keselamatan warga sekitar.


Lebih lanjut dikatakan Sutikno tangkaran ini diusulkan pembuatannya berdasarkan populasi buaya yang sudah mulai banyak ditemukan di perairan Aceh Singkil.  Bahkan sudah menelan korban jiwa yang sedang mencari nafkah yaitu lokan/kerang.  Karena takut diserang buaya, maka warga menjadi dendam dan terus melakukan perburuan buaya. (Aryani/EBS)

Senin, 15 Februari 2016

Mahasiwa Staisar Galang Dana Untuk Korban Banjir Bandang

Singkil - Dengan memiliki rasa solidaritas yang tinggi, Mahasiswa STAISAR melakukan Penggalangan Dana Untuk Korban Musibah Banjir Bandang di Desa Sumber Mukti Kecamatan Singkohor.  Penggalangan dana dilaksanakan di Kecamatan Gunung Meriah.  

Salah satu Anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Staisar Idrus Syahputra saat diwawanacari RRI di lokasi penggalangan dana di kecamatan Gunung Meriah, Minggu (14/02/2014) mengatakan, penggalangan dana yang dilakukan adalah bentuk solidaritas mereka terhadap warga yang terkena musibah banjir bandang di Kecamatan Singkohor. 

“Ini sebagai bentuk solidaritas kita, kami merasakan duka yang dirasakan masyarakat Singkohor.  Tujuan nya untuk disalurkan kepada korban banjir bandang di desa Sumber Mukti,” kata Idrus Syahputra.

Idrus mengatakan dana yang terkumpul tidak akan diberikan berupa uang, melainkan akan digantikan dengan makanan siap saji dan kebutuhan lainya.

Diharapkan Idrus meskipun bantuan yang diberikan tidak seberapa, tetapi dapat mengurangi rasa duka dan kekurangan korban.  Karena korban yang  terkena musibah banyak kehilangkan harta benda. 

Idrus menambahkan penggalangan dana juga dilakukan sebagai bentuk rasa duka atas apa yang telah dirasakan korban.   Penggalangan dana bukan yang pertama kali, tetapi sudah sering dilakukan untuk daerah lain yang terkena musibah.  Sebagai bentuk rasa solidaritas mereka terhadap masayarakat di Indonesia khususnya di Propinsi Aceh.


Untuk korban banjir bandang di Kecamatan Singkohor, penggalangan dana sudah dilakukan sejak Kamis 11 Februari sampai Minggu 14 Februari 2016,.  Bantuan akan disalurkan pada Selasa 16 Februari 2016. (Aryani/ EBS)

Pramuka Singkil Galang Dana Untuk Korban Angin Puting Beliung

Singkil - Gabungan Pramuka Aceh Singkil  melakukakan penggalangan dana untuk disalurkan kepada korban Angin Puting Beliung yang menghantam Desa Haloban Kecamatan Pulau Banyak Barat Kabupaten Aceh Singkil beberapa waktu lalu.  Rasa peduli terhadap warga yang menjadi korban karena akibat angin puting beliung puluhan rumah di desa Haloban diterbangkan angin.  Terjangan angin kencang yang disertai gemuruh dan hujan lebat,  terjadi tepat pukul 12 malam minggu lalu.  Hal ini membuat warga panik, namun tidak ada korban jiwa dalam peritiwa tersebut.

Koordinator penggalangan dana siswa dari SMA 1 Singkil Utara Irvan kepada RRI Senin, (15/02/2016) mengatakan, untuk mengumpulkan dana, mereka sengaja turun langsung  mengutip ke rumah-rumah di dua desa di Kecamatan Singkil Utara.

“Kami disini ingin berpartisipasi membantu mereka karena ada sekitar 16 rumah yang terkena bencana.  Untuk sekarang ini kawasan yang kami kunjungi yaitu di desa Gosong dan Muara Pea,” Kata Irvan.

Irvan menambahkan selain mengutip ke rumah-rumah warga, mereka merencanakan akan ke siswa-sisa di sekolah-sekolah terdekat.  Dijelasknya, Penggalangan ini merupakan bentuk kepedulian dan solidaritas sesama anak bangsa.  Apalagi akibat peristiwa angin kencang itu membuat belasan rumah tangga kehilangan tempat tinggal.

Adapun hasil pengalangan dana yang dihimpun,  akan disumbangkan berupa bantuan logistik.   Dengan harapan kegiatan positif tersebut akan memberi manfaat bagi korban (Defri Suriana/ EBS)


Aceh Singkil Masih Kekurangan Tenaga Penyuluh Pertanian

Singkil - Sampai dengan awal tahun 2016, Kabupaten Aceh Singkil masih kekurangan tenaga Penyuluh Pertanian.  Untuk saat ini Aceh Singkil masih memiliki sekitar 76 orang Penyuluh Pertanian, yang ditempatkan di 116 desa.  Jumlah ini tidak mencukupi apabila mengikuti Peraturan Menteri Pertanian, yang mengharuskan jumlah penyuluh pertanian sama dengan jumlah desa yang ada.

Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan (BPPKP) Aceh Singkil, Syukriwadi, SP kepada RRI, Senin (15/02/2015), mengatakan sesuai Peraturan Menteri Pertanian, seharusnya 1 tenaga penyuluh mendampingi 1 wilayah binaan (Wabin), sehingga terbentuk satuan wilayah binaan.  Sementara di Aceh Singkil ada satu penyuluh  yang  membawahi 3 desa.  

“Diharapkan berapa banyak desa begitu juga yang harus kita sediakan.  Di Aceh Singkil seharusnya 116 orang.  Karena dalam pembinaan dari penyuluh satu desa satu penyuluh.  Jadi terbentuklah satuan wilayah binaan,” kata Syukriwadi.

Syukriwadi mengatakan di Aceh Singkil ada satu penyuluh  yang  membawahi 3 desa.   Karena sampai dengan saat ini  jumlah Penyuluh Pertanian masih kurang, yang hanya sekitar 60 orang yang mencakup Pegawai Negeri Sipil dan Tenaga Honor. Dan diperbantukan 16 orang dari Penyuluh Swadaya.

Dikatakan Syukriwadi, jumlah tenaga penyuluh semakin berkurang karena beberapa diantaranya juga diangkat sebagai Pelaksana Tugas Kepala Badan Penyululuh Pertanian di Kecamatan.  Padahal kecukupan Penyuluh Pertanian sangat penting untuk dapat menciptakan ketahanan pangan di Kabupaten Aceh Singkil.  Karena itu, Syukriwadi sangat mengharapkan dukungan Pemerintah Daerah untuk memenuhi kekurangan tenaga Penyuluh di Kabupaten Aceh Singkil. 


“Kita harapkan ada penambahan tenaga penyuluh melalui pembukaan kuota posisi tenaga Penyuluh Pertanian dalam Penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil di Kabupaten Aceh Singkil,” pungkas Syukriwadi. (Eva Basaria Situmorang/EBS)